MUARA
PRIBADI KAMILAH
Oleh : Ahmad Basyir Luthfi (1704028006)
Dalam banyak hal maupun kesempatan, kita sangat sering mendengar
kata ataupun pengucapan tentang pribadi dan kepribadian. Dua hal yang
sebenarnya memang tidak bisa dipisahkan secara langsung, akan tetapi dapat
dibedakan, sehingga kita akan tau dimana letak pengertian pribadi dan letak
pengertian kepribadian.
Pribadi
memiliki pengertian sebagai personal 'seseorang' yang menujukan keterpisahan,
yakni lebih mengandung maksud ke-arah individualisme dan cukup berhenti sampai
tataran ini.
Sedangkan
secara etimologis, kata kepribadian berasal dari kata “pribadi” yang memiliki
arti manusia yang dalam bahasa arab disebut insan, sebagai perseorangan, namun mencakup
keseluruhan sifat-sifat dan watak yang dimilikinya, Sebagai contoh sifat dan
watak adalah berupa dorongan, kecenderungan, selera, dan instink yang didapat
melalui pengalaman yang terdapat pada diri seseorang. Oleh karenanya, setiap
orang memiliki ciri khusus dan unik, karena masing-masing kehidupan seseorang
berbeda, yang terkait dengan berbagai aspek serta kemampuan intelektual dalam
rangka menuju pola kehidupan pribadi lebih mantap yang berupaya untuk mampu
mandiri, mampu mengurus diri sendiri sampai dengan mengatur dan memenuhi
kebutuhan serta tugasnya sehari-hari.
Menurut Dr. H. Abuddin Nata, M.A. dalam bukunya
Akhlak Tasawuf mengatakan bahwa kata insan menunjukkan pada sesuatu yang secara
khusus digunakan untuk arti manusia dari segi sifatnya[[1]].
Di dalam Al-Quran telah dijumpai dan dibedakan dengan istilah basyar dan
al-nas. Kata insan jamaknya kata al-nas. Kata insan mempunyai tiga asal kata.
Pertama, berasal dari kata anasa yang mempunyai arti melihat, mengetahui dan
minta izin. yang kedua, berasal dari kata nasiya yang artinya lupa. Yang ketiga
berasal dari kata al-uns yang artinya jinak, lawan dari kata buas.
Selanjutnya kata insan dalam al-Qur’an di sebut
sebanyak 65 kali dalam 63 ayat, dan di gunakan untuk menyatakan manusia dalam
lapangan kegiatan yang amat luas. Musa Asy’ari menyebutkan lapangan kegiatan
insan dalam 6 bidang. Pertama untuk menyatakan bahwa manusia menerima pelajaran
dari tuhan tentang apa yag di ketahuinya (Q.S.96:1-5) kedua, manusia mempunyai
musuh yang nyata, yaitu setan.(Q.S.12:5) ketiga, manusia memikul amanat dari
tuhan.(Q.S.33:72) keempat, manusia harus menggunakan waktu dengan baik (Q.S
105:1-3) kelima, manusia hanya akan mendapatkan bagian dari apa yang telah di
kerjakannya.(Q.S 53:39) keenam, manusia mempunya keterikatan dengan moral atau
sopan santun (Q.S 29:8).
Berdasarkan petunjuk ayat-ayat tersebut manusia
menunjukkan makhluk yang dapat belajar, mempunyai musuh (setan), dapat
menggunakan waktu, dapat memikul amanat, punya keterkaitan dengan moral, dapat
berternak (Q.S 28:23), menguasai lautan (Q.S 2:124), dapat mengelolah biji besi
dan logam (Q.S 57:25), melakukan perubahan sosial (Q.S 3:140), memimpin (Q.S
2:124), menguasai ruang angkasa (Q.S 55:33), beribadah (Q.S 2:21), akan di
hidupkan di akhirat (Q.S 17:71).
Semua kegiatan yang di sebutkan al-Qur’an di
atas, di kaitkan dengan penggunaan kata insan di dalamnya, menunjukkan bahwa
semua kegiatan itu pada dasarnya adalah kegiatan yang di sadari dan berkaitan
dengan kapasitas akalnya dan aktualitas dalam kehidupan konkret, yaitu
perencanaan, tindakan dan akibat-akibat atau perolehan-perolehan yang di
timbulkannya. Berdasarkan keterangan tersebut istilah insan ternyata
menunjukkan kepada makhluk yang dapat melakukan berbagai kegiatan karena
memiliki berbagai potensi baik yang bersifat fisik, moral, mental maupun
intelektual. Manusia yang dapat mewujudkan perbuatan-perbuatan tersaebut itulah
yang di sebut insan kamil.
Selanjutnya al-Nas digunakan al-Qur’an untuk
menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai
kegiatan untuk mengembangkan kehidupannya, seperti kegiatan bidang peternakan,
penggunaan logam besi, penguasaan laut, melakukan perubahan sosial dan
kepemimpinan.
Berdasarkan keterangan tersebut kita melihat
bahwa islam dengan sumber ajarannya “al-Qur’an” telah memotret manusia dalam
sosoknya yang benar-benar utuh dan menyeluh. Seluruh sisi dan aspek dari
keidupan manusia dipotret dengan cara yang amat akurat.
Dengan demikian, insan kamil lebih ditujukan
kepada manusia yang sempurna dari segi pengembangan potensi intelektual,
rohaniah, intuisi, kata hati, akal sehat, fitrah dan lainnya bersifat batin,
dan bukan pada manusia dari dimensi basyariahnya. Pembinaan kesempurnaan
basyariah bukan menjadi bidang garapan tasawuf, tetapi menjadi garapan fikih.
Dengan perpaduan fikih dan tasawuf inilah insan kamil akan lebih terbina lagi.
Namun insan kamil lebih ditekankan pada manusia yang sempurna dari segi
insaniyahnya, atau segi potensi intelektual, rohaniah dan lainnya itu.
Insan kamil juga berarti manusia yang sehat dan
terbina potensi rohaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal dan
berubungan dengan Allah dan dengan makhluk lainnya secara benar menurut akhlak
islami. Manusia yang selamat rohaniah itulah yang diharapkan dari manusia insan
kamil. Manusia yang demikian inilah yang akan selamat hidupnya di dunia dan
akhirat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT QS As-Syuro: 88-89
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ
مَالٌ وَلَا بَنُون َإِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki
tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang
bersih,
Ayat tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah
yang menyatakan:
ان الله لا ينظر الي صوركم ولا الي اجسا مكم واموالكم ولكن ينظر الي قلوبكم
واعمالكم
“Sesungguhnya Allah SWT. tidak akan melihat pada
rupa, tubuh dan harta kamu, tetapi Allah melihat pada hati dan perbuatan
kamu.(HR. thabrani).”
Ayat dan hadist tersebut di atas menunjukkan
bahwa yang akan membawa keselamatan manusia adalah batin, rohani, hati dan
perbuatan yang baik. Orang yang demikian itulah yang dapat disebut sebagai
insan kamil. Pada ayat lain di dalam al-Qur’an banyak dijumpai bahwa yang kelak
akan dipanggil masuk surga adalah jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah).
Dalam sebuah artikel lain,
disebutkan Setidaknya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada
pribadi muslim, yaitu:
1.
Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah)
merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih,
seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan
ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-
ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan
menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya (QS
Al-An’am [6] :162).
2.
Shahihul ‘Ibadah
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah
satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan:
'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka
dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk
kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau
pengurangan.
3. Matinul Khuluq Akhlak yang kokoh (matinul khuluq)
atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh
setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan
makhluk-makhluk-Nya.
4. Qowiyyul Jismi
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu
sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim
memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara
optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan
amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau
kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh
karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan
pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun
demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu
kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena
kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang
artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR.
Muslim).
5. Mutsaqaful Fikri Intelek dalam berpikir
(mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting.
Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak
mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, dalam firman Allah
SWT: “Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada
keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang
mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.' Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219).
6. Mujahadatun Linafsihi
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi)
merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim,
karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk.
Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat
menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang
berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada
setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw
bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan
hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Haritsun 'ala Waqtihi
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan
faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat
perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak
bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad
dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada
manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu
yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi.
Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam
daripada kehilangan waktu'. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan
tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut
untuk memenej waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan
penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung
oleh Nabi Saw adalah: “memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima
perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua,
senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syu'unihi
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi)
termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun
sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah
ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik.
Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama
dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
9. Qodirun 'alal Kasbi
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga
disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada
pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan
kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang
memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi.
10. Naafi'un Lighoirihi
Bermanfaat bagi orang lain (nafi'un lighoirihi)
merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu
saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya
merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Ini berarti setiap muslim itu
harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa
bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu
tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. HR. Bukhari Muslim:
"Khoirunnas Anfa 'uhum linnas", yang artinya: sebaik-baik manusia
adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya [[2]].
Dalam
perjalanan pengetahuan kita, banyak kita mendengar cerita-cerita dari guru-guru
kita di madrasah ataupun di pondok pesantren yang menggambarkan keteladanan
pribadi guru-guru kita, kyai kita, kemudian cerita-cerita tentang orang-orang
sholeh yang mempunyai pribadi sekaligus kepribadian sempurna yang patut
dijadikan contoh bagi kita. Salah satunya adalah cerita tentang kepribadian KH.Abdullah
Faqih Langitan. segala sifat, prilaku, dan tutur katanya, begitu
kental dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mulai dari kesederhanaan,
ketawadhu’an, ketulusan, keikhlasan, kesabaran, keilmuan, kewira’ian dan
lain-lain, semua melekat pada jiwa beliau.
Dari situlah muncul
suri tauladan yang sepatutnya dicontoh mulai dari Sifat qona’ah yang selalu menyertai kehidupan beliau, hal itu terbukti
dengan rumah beliau yang cukup sederhana. Beliau tidak pernah tergiur oleh
gemerlap dunia karena kehidupan dunia tidak selamanya abadi. Selain itu Baju
dan songkok berwarna putih yang dikenakannya sehari-hari pun juga menunjukan
sebuah kesederhanaan, dalam artian beliau tidak neko-neko. Tidak hanya
itu, dalam rutinitasnya, beliau hanya memiliki tiga buah sarung yang biasa
beliau kenakan setiap hari, padahal kalau dihitung, betapa banyak sarung yang
dihadiahkan kepadanya, namun bagi syakhina tiga sarung sudah cukup. Dan beliau
memberikan sarung-sarung tersebut kepada orang lain.
Keikhlasan
beliau dalam memperjuangkan agama melalui pesantren dengan mendidik para santri
agar menjadi insan yang mulia. Semua itu beliau lakukan dengan tulus dari
hatinya semata-mata hanya menginginkan santri-santrinya mendapatkan ilmu yang
manfaat sehingga mereka bisa mengamalkan dan turut meneruskan perjuangan beliau
[[3]].
Masih banyak cerita-cerita pribadi yang memiliki kepribadian yang luar
biasa, cerita diatas hanyalah secuil kisah dari puluhan bahkan ratusan dari
cerita-cerita lainya yang patut untuk dijadikan refleksi atas diri kita ataupun
keluarga kita. Pribadi-pribadi tersebut adalah pribadi yang kamil, yang
sempurna yang memberikan manfaat bagi siapapun dan dimanapun ia berada.
Secara lebih rinci, pribadi-pribadi seperti
KH.Abdullah Faqih Langitan ataupun pribadi-pribadi yang lain yang mempunyai
kepribadian seperti yang dicontohkan Rosulullah Saw merupakan pribadi yang
sangat didambakan oleh siapapun, peribadi tersebut telah paripurna sebagai
pribadi yang masuk kedalam golongan insan kamil yang berarti manusia yang
sempurna yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Jasmani
yang sehat serta kuat dan berketerampilan.
Orang
islam perlu memiliki jasmani yang sehat serta kuat, terutama berhubungan dengan
penyiaran dan pembelaan serta penegakkan agama islam. Dalam surah al-Anfal :
60, disebutkan agar orang islam mempersiapkan kekuatan dan pasukan berkuda
untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan
pula dengan menguasai keterampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk
kehidupan.
2.
Cerdas
serta pandai.
Cerdas
ditandai oleh adanya kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat,
sedangkan pandai ditandai oleh banyak memiliki pengetahuan (banyak memiliki
informasi). Didalam surah az-Zumar : 9, disebutkan sama antara orang yang
mengetahui dan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya hanya orang yang
berakallah yang dapat menerima pelajaran.
3.
Ruhani
yang berkualitas tinggi.
Kalbu yang
berkualitas tinggi itu adalah kalbu yang penuh berisi iman kepada Allah, atau
kalbu yang taqwa kepada Allah. Kalbu yang iman itu ditandai bila orangnya
shalat, ia shalat dengan khusuk, bila mengingat Allah kulit dan hatinya
tenang bila disebut nama Allah bergetar hatinya bila dibacakan kepada
mereka ayat-ayat Allah, mereka sujud dan menangis [[4]].
Sifat –
sifatnya manusia yang sempurna terdiri dari : Keimanan, Ketaqwaan, Keadaban,
Keilmuan, Kemahiran, Ketertiban, Kegigihan dalam kebaikan dan kebenaran,
Persaudaraan, Persepakatan dalam hidup, Perpaduan umah.
Kepribadian insan seperti KH.Abdullah Faqih Langitan, tentu saja tidak
serta merta muncul begitu saja, melainkan melalui tempaan-tempaan dan
proses-proses yang dilalui sebelumnya. Proses-proses itu setidaknya ada 3
tahapan pendidikan :
1.
Pranata
Education (Tarbiyah Golb Al-Wiladah)
Proses
pendidikan jenis ini dilakukan secara tidak langsung. Proses ini dimula disaat
pemilihan calon suami atau istri dari kalangan yang baik dan berakhlak. Sabda Rasulullah
SAW : “ Pilihlah tempat yang sesuai untuk benih (mani) mu karena keturunan.
Kemudian dilanjutkan dengan sikap prilaku orang tua yang islam”
2.
Education
by Another (Tarbiyah Ma’aghoirih).
Proses
pendidikan ini dilakukan secara langsung oleh orang lain (orang tua di rumah
tangga, guru di sekolah dan pemimpin di dalam masyarakat dan para ulama).
Manusia sewaktu dilahirkan tidak mengetahui sesuatu tentang apa yang ada dalam
dirinya dan diluar dirinya. Firman Allah SWT yang artinya : “Dan Allah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidaklah kamu mengetahui apapun dan Ia
menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati ” ( Q.S. An-Nahl :
78 )
3.
Self
Education (Tarbiyah Al-Nafs)
Proses ini
dilaksanakan melalui kegiatan pribadi tanpa bantuan orang lain seperti membaca
buku-buku, majalah, Koran dan sebagainya melalui penelitian untuk menemukan
hakikat segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Menurut Muzayyin, Self
Education timbul karena dorongan dari naluri kemanusiaan yang ingin mengetahui.
Ia merupakan kecenderungan anugrah Tuhan. Dalam ajaran islam yang menyebabkan
dorongan tersebut adalah hidayah [[5]].
Firman Allah SWT yang artinya : “Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah
memberikan kepada tiap-tiap makhluk bentuk kejadiannya kemudian memberinya
petunjuk” (QS. Thoha:50)
pembentukan
pribadi kamil dalam kehidupan sehari – hari bukanlah perkara mudah, insan kamil
yaitu manusia yang sempurna. Sedangkan manusia sendiri, seperti yang telah kita
ketahui tak ada yang terlahir dengan sempurna. Manusia adalah tempat segala
kesalahan dan kekhilafan berasal. Namun kesempurnaan yang dimaksudkan di sini
bukanlah kesempurnaan dalam arti tak pernah melakukan kesalahan sama sekali.
Tak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan, itu kodrat. Karena itulah
telah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu cara untuk mencapai dalam
pembentukan pribadi kamil adalah dengan bertaubat dengan syarat –
syaratnya dan bertaubat hanya dilakukan oleh orang yang merasa melakukan
kesalahan. Meskipun begitu, seseorang yang ingin mencapai tingkatan pribadi
kamil harus tetap menjaga segala tingkah lakunya, agar jangan sampai keluar
dari ajaran Islam yang sebenarnya. Disamping itu, seorang pribadi kamil juga
harus menjaga diri dari kesalahan – kesalahan yang mungkin dianggap kecil dalam
kehidupan sehari – hari, seperti tergesa – gesa dan tidak cermat. Melahirkan
pribadi yang kamil bukanlah semudah memberi pendidikan secara formal dari kecil
sehingga dewasa.
Tanggung jawab dari dalam diri manusia itu
sendiri. Kesadaran ini bukan saja merangkumi aspek kecintaan terhadap negara,
bangsa dan agama malah menyeluruh meliputi ke-insafan dan kesedaran tentang
tanggung jawab setiap manusia kepada sesama manusia dan kepada Penciptanya.
Oleh hal yang demikian itu, pembelajaran dan pendidikan sepanjang hayat harus
terwujud dalam setiap diri manusia.
Tentu kita menyadari di zaman sekarang ini memang
sangat sulit bagi kita untuk dapat melihat atau menemukan seseorang yang
menerapkan pribadi kamil di dalam kehidupannya, seperti yang kita tahu pribadi
kamil merupakan perwujudan dari sifat – sifat dan perbuatan nabi Muhammad SAW
yang sangat sempurna yang tidak semua orang dapat melakukannya apalagi ditengah
maraknya orang yang hanya kemudian mengikutinya dari segi fisik dan ketubuhan
beliau saja. Artinya beliau hanya dilihat secara partial saja, sehingga begitu
banyaknya kita lihat manusia dengan "atribut fisik" mirip Rasulullah
tapi akhlak dan kepribadianya sangat jauh dari apa yang menjadi ajaran nabi.
Namun gambaran manusia mukmin
layaknya KH.Abdullah Faqih Langitan dengan segenap ciri yang terdapat dalam
Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia paripurna (insan kamil) dalam
kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai oleh manusia. Allah menghendaki
kita untuk dapat berusaha mewujudkannya dalam diri kita, Rasulullah saw telah
membina generasi pertama kaum mukminin atas dasar ciri-ciri tersebut. Beliau
berhasil mengubah kepribadian kaum jahilin secara total serta membentuk mereka
sebagai mukmin sejati yang mampu mengubah wajah sejarah dengan kekuatan pribadi
dan kemuliaan akhlak mereka [[6]]. Singkatnya,
kepribadian orang beriman dapat menjadi teladan bagi orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Nata Abuddin Dr. H. M.A, Akhlak Tasawuf, 2002.
Jakarta : PT. Raja Grapindo Persada
Muthari Murtalha,
Manusia Sempurna, 2003, Jakarta,
Lentera
Najali, Utsman, Muhammad Dr., Jiwa dalam
Pandangan Para Filsafat Muslim, terj. Gari Saloom, S.Psi, Bandung, 2002
Syukur, M. Amin, dan Usman, Fathimah. Insan
Kamil. 2005. Semarang : CV. Bima Sejati.
Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum
Psikologi (Cet. VI; Jakarta: Bulan Bintang, 1991).
Supiana dan Karman, M. Materi
PendidikanAgamaIslam.2009.Bandung : PT. Remaja Rosda Karya
http://afifulikhwan.blogspot.co.id/2012/06/kepribadian-muslim.html. Diakses 7 januari 2018 , pkl.01.30 wib
Fauzi,
Ahmad, Drs, H, Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia, 1999
[1] Dr.H.Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf,
(Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2002), hal. 257
[2]
http://afifulikhwan.blogspot.co.id/2012/06/kepribadian-muslim.html. Diakses 7
januari 2018 , pkl.01.30 wib
[3]
Diceritakan
langsung oleh murid beliau yang bernama KH.Afifuddin Dimyathi, ketika penulis
ikut mengaji kitab adabuddunya waddin
[4]
Muthari Murtalha, Manusia
Sempurna, ( Lentera, Jakarta, 2003 ), Hal. 23.
[5]
Supiana dan M. Karman, Materi Pendidikan Agama Islam, (PT. Remaja
Rosda Karya, Bandung, 2009), Hal.70