Sabtu, 13 Januari 2018



MUARA PRIBADI KAMILAH
Oleh : Ahmad Basyir Luthfi (1704028006)
Dalam banyak hal maupun kesempatan, kita sangat sering mendengar kata ataupun pengucapan tentang pribadi dan kepribadian. Dua hal yang sebenarnya memang tidak bisa dipisahkan secara langsung, akan tetapi dapat dibedakan, sehingga kita akan tau dimana letak pengertian pribadi dan letak pengertian kepribadian.
Pribadi memiliki pengertian sebagai personal 'seseorang' yang menujukan keterpisahan, yakni lebih mengandung maksud ke-arah individualisme dan cukup berhenti sampai tataran ini.
Sedangkan secara etimologis, kata kepribadian berasal dari kata “pribadi” yang memiliki arti manusia yang dalam bahasa arab disebut insan, sebagai perseorangan, namun mencakup keseluruhan sifat-sifat dan watak yang dimilikinya, Sebagai contoh sifat dan watak adalah berupa dorongan, kecenderungan, selera, dan instink yang didapat melalui pengalaman yang terdapat pada diri seseorang. Oleh karenanya, setiap orang memiliki ciri khusus dan unik, karena masing-masing kehidupan seseorang berbeda, yang terkait dengan berbagai aspek serta kemampuan intelektual dalam rangka menuju pola kehidupan pribadi lebih mantap yang berupaya untuk mampu mandiri, mampu mengurus diri sendiri sampai dengan mengatur dan memenuhi kebutuhan serta tugasnya sehari-hari.
Menurut Dr. H. Abuddin Nata, M.A. dalam bukunya Akhlak Tasawuf mengatakan bahwa kata insan menunjukkan pada sesuatu yang secara khusus digunakan untuk arti manusia dari segi sifatnya[[1]]. Di dalam Al-Quran telah dijumpai dan dibedakan dengan istilah basyar dan al-nas. Kata insan jamaknya kata al-nas. Kata insan mempunyai tiga asal kata. Pertama, berasal dari kata anasa yang mempunyai arti melihat, mengetahui dan minta izin. yang kedua, berasal dari kata nasiya yang artinya lupa. Yang ketiga berasal dari kata al-uns yang artinya jinak, lawan dari kata buas.
Selanjutnya kata insan dalam al-Qur’an di sebut sebanyak 65 kali dalam 63 ayat, dan di gunakan untuk menyatakan manusia dalam lapangan kegiatan yang amat luas. Musa Asy’ari menyebutkan lapangan kegiatan insan dalam 6 bidang. Pertama untuk menyatakan bahwa manusia menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yag di ketahuinya (Q.S.96:1-5) kedua, manusia mempunyai musuh yang nyata, yaitu setan.(Q.S.12:5) ketiga, manusia memikul amanat dari tuhan.(Q.S.33:72) keempat, manusia harus menggunakan waktu dengan baik (Q.S 105:1-3) kelima, manusia hanya akan mendapatkan bagian dari apa yang telah di kerjakannya.(Q.S 53:39) keenam, manusia mempunya keterikatan dengan moral atau sopan santun (Q.S 29:8).
Berdasarkan petunjuk ayat-ayat tersebut manusia menunjukkan makhluk yang dapat belajar, mempunyai musuh (setan), dapat menggunakan waktu, dapat memikul amanat, punya keterkaitan dengan moral, dapat berternak (Q.S 28:23), menguasai lautan (Q.S 2:124), dapat mengelolah biji besi dan logam (Q.S 57:25), melakukan perubahan sosial (Q.S 3:140), memimpin (Q.S 2:124), menguasai ruang angkasa (Q.S 55:33), beribadah (Q.S 2:21), akan di hidupkan di akhirat (Q.S 17:71).
Semua kegiatan yang di sebutkan al-Qur’an di atas, di kaitkan dengan penggunaan kata insan di dalamnya, menunjukkan bahwa semua kegiatan itu pada dasarnya adalah kegiatan yang di sadari dan berkaitan dengan kapasitas akalnya dan aktualitas dalam kehidupan konkret, yaitu perencanaan, tindakan dan akibat-akibat atau perolehan-perolehan yang di timbulkannya. Berdasarkan keterangan tersebut istilah insan ternyata menunjukkan kepada makhluk yang dapat melakukan berbagai kegiatan karena memiliki berbagai potensi baik yang bersifat fisik, moral, mental maupun intelektual. Manusia yang dapat mewujudkan perbuatan-perbuatan tersaebut itulah yang di sebut insan kamil.
Selanjutnya al-Nas digunakan al-Qur’an untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan untuk mengembangkan kehidupannya, seperti kegiatan bidang peternakan, penggunaan logam besi, penguasaan laut, melakukan perubahan sosial dan kepemimpinan.
Berdasarkan keterangan tersebut kita melihat bahwa islam dengan sumber ajarannya “al-Qur’an” telah memotret manusia dalam sosoknya yang benar-benar utuh dan menyeluh. Seluruh sisi dan aspek dari keidupan manusia dipotret dengan cara yang amat akurat.
Dengan demikian, insan kamil lebih ditujukan kepada manusia yang sempurna dari segi pengembangan potensi intelektual, rohaniah, intuisi, kata hati, akal sehat, fitrah dan lainnya bersifat batin, dan bukan pada manusia dari dimensi basyariahnya. Pembinaan kesempurnaan basyariah bukan menjadi bidang garapan tasawuf, tetapi menjadi garapan fikih. Dengan perpaduan fikih dan tasawuf inilah insan kamil akan lebih terbina lagi. Namun insan kamil lebih ditekankan pada manusia yang sempurna dari segi insaniyahnya, atau segi potensi intelektual, rohaniah dan lainnya itu.
Insan kamil juga berarti manusia yang sehat dan terbina potensi rohaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal dan berubungan dengan Allah dan dengan makhluk lainnya secara benar menurut akhlak islami. Manusia yang selamat rohaniah itulah yang diharapkan dari manusia insan kamil. Manusia yang demikian inilah yang akan selamat hidupnya di dunia dan akhirat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT QS As-Syuro: 88-89
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُون َإِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ 
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, 
Ayat tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah yang menyatakan:
ان الله لا ينظر الي صوركم ولا الي اجسا مكم واموالكم ولكن ينظر الي قلوبكم واعمالكم
“Sesungguhnya Allah SWT. tidak akan melihat pada rupa, tubuh dan harta kamu, tetapi Allah melihat pada hati dan perbuatan kamu.(HR. thabrani).”
Ayat dan hadist tersebut di atas menunjukkan bahwa yang akan membawa keselamatan manusia adalah batin, rohani, hati dan perbuatan yang baik. Orang yang demikian itulah yang dapat disebut sebagai insan kamil. Pada ayat lain di dalam al-Qur’an banyak dijumpai bahwa yang kelak akan dipanggil masuk surga adalah jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah).
Dalam sebuah artikel lain, disebutkan Setidaknya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim, yaitu:
1.    Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya (QS Al-An’am [6] :162).
2.    Shahihul ‘Ibadah
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya.
4. Qowiyyul Jismi
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).
5. Mutsaqaful Fikri Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, dalam firman Allah SWT: “Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.' Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219).
6. Mujahadatun Linafsihi
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Haritsun 'ala Waqtihi
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu'. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memenej waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah: “memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syu'unihi
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
9. Qodirun 'alal Kasbi
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi.
10. Naafi'un Lighoirihi
Bermanfaat bagi orang lain (nafi'un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. HR. Bukhari Muslim: "Khoirunnas Anfa 'uhum linnas", yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya [[2]].
Dalam perjalanan pengetahuan kita, banyak kita mendengar cerita-cerita dari guru-guru kita di madrasah ataupun di pondok pesantren yang menggambarkan keteladanan pribadi guru-guru kita, kyai kita, kemudian cerita-cerita tentang orang-orang sholeh yang mempunyai pribadi sekaligus kepribadian sempurna yang patut dijadikan contoh bagi kita. Salah satunya adalah cerita tentang kepribadian KH.Abdullah Faqih Langitan. segala sifat, prilaku, dan tutur katanya, begitu kental dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mulai dari kesederhanaan, ketawadhu’an, ketulusan, keikhlasan, kesabaran, keilmuan, kewira’ian dan lain-lain, semua melekat pada jiwa beliau.
Dari situlah muncul suri tauladan yang sepatutnya dicontoh mulai dari Sifat qona’ah yang selalu menyertai kehidupan beliau, hal itu terbukti dengan rumah beliau yang cukup sederhana. Beliau tidak pernah tergiur oleh gemerlap dunia karena kehidupan dunia tidak selamanya abadi. Selain itu Baju dan songkok berwarna putih yang dikenakannya sehari-hari pun juga menunjukan sebuah kesederhanaan, dalam artian beliau tidak neko-neko. Tidak hanya itu, dalam rutinitasnya, beliau hanya memiliki tiga buah sarung yang biasa beliau kenakan setiap hari, padahal kalau dihitung, betapa banyak sarung yang dihadiahkan kepadanya, namun bagi syakhina tiga sarung sudah cukup. Dan beliau memberikan sarung-sarung tersebut kepada orang lain.
Keikhlasan beliau dalam memperjuangkan agama melalui pesantren dengan mendidik para santri agar menjadi insan yang mulia. Semua itu beliau lakukan dengan tulus dari hatinya semata-mata hanya menginginkan santri-santrinya mendapatkan ilmu yang manfaat sehingga mereka bisa mengamalkan dan turut meneruskan perjuangan beliau [[3]].
Masih banyak cerita-cerita pribadi yang memiliki kepribadian yang luar biasa, cerita diatas hanyalah secuil kisah dari puluhan bahkan ratusan dari cerita-cerita lainya yang patut untuk dijadikan refleksi atas diri kita ataupun keluarga kita. Pribadi-pribadi tersebut adalah pribadi yang kamil, yang sempurna yang memberikan manfaat bagi siapapun dan dimanapun ia berada.
Secara lebih rinci, pribadi-pribadi seperti KH.Abdullah Faqih Langitan ataupun pribadi-pribadi yang lain yang mempunyai kepribadian seperti yang dicontohkan Rosulullah Saw merupakan pribadi yang sangat didambakan oleh siapapun, peribadi tersebut telah paripurna sebagai pribadi yang masuk kedalam golongan insan kamil yang berarti manusia yang sempurna yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.        Jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan.
Orang islam perlu memiliki jasmani yang sehat serta kuat, terutama berhubungan dengan penyiaran dan pembelaan serta penegakkan agama islam. Dalam surah al-Anfal : 60, disebutkan agar orang islam mempersiapkan kekuatan dan pasukan berkuda untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan pula dengan menguasai keterampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan.
2.        Cerdas serta pandai.
Cerdas ditandai oleh adanya kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai ditandai oleh banyak memiliki pengetahuan (banyak memiliki informasi). Didalam surah az-Zumar : 9, disebutkan sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
3.        Ruhani yang berkualitas tinggi.
Kalbu yang berkualitas tinggi itu adalah kalbu yang penuh berisi iman kepada Allah, atau kalbu yang taqwa kepada Allah. Kalbu yang iman itu ditandai bila orangnya shalat, ia shalat dengan khusuk, bila mengingat Allah kulit dan hatinya tenang  bila disebut nama Allah bergetar hatinya bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mereka sujud dan menangis [[4]].
Sifat – sifatnya manusia yang sempurna terdiri dari : Keimanan, Ketaqwaan, Keadaban, Keilmuan, Kemahiran, Ketertiban, Kegigihan dalam kebaikan dan kebenaran, Persaudaraan, Persepakatan dalam hidup, Perpaduan umah.
Kepribadian insan seperti KH.Abdullah Faqih Langitan, tentu saja tidak serta merta muncul begitu saja, melainkan melalui tempaan-tempaan dan proses-proses yang dilalui sebelumnya. Proses-proses itu setidaknya ada 3 tahapan pendidikan :
1.       Pranata Education (Tarbiyah Golb Al-Wiladah)
Proses pendidikan jenis ini dilakukan secara tidak langsung. Proses ini dimula disaat pemilihan calon suami atau istri dari kalangan yang baik dan berakhlak. Sabda Rasulullah SAW : “ Pilihlah tempat yang sesuai untuk benih (mani) mu karena keturunan. Kemudian dilanjutkan dengan sikap prilaku orang tua yang islam”
2.       Education by Another (Tarbiyah Ma’aghoirih).
Proses pendidikan ini dilakukan secara langsung oleh orang lain (orang tua di rumah tangga, guru di sekolah dan pemimpin di dalam masyarakat dan para ulama). Manusia sewaktu dilahirkan tidak mengetahui sesuatu tentang apa yang ada dalam dirinya dan diluar dirinya. Firman Allah SWT yang artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidaklah kamu mengetahui apapun dan Ia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati ” ( Q.S. An-Nahl : 78 )
3.       Self Education (Tarbiyah Al-Nafs)
Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan pribadi tanpa bantuan orang lain seperti membaca buku-buku, majalah, Koran dan sebagainya melalui penelitian untuk menemukan hakikat segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Menurut Muzayyin, Self Education timbul karena dorongan dari naluri kemanusiaan yang ingin mengetahui. Ia merupakan kecenderungan anugrah Tuhan. Dalam ajaran islam yang menyebabkan dorongan tersebut adalah hidayah [[5]]. Firman Allah SWT yang artinya : “Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap makhluk bentuk kejadiannya kemudian memberinya petunjuk” (QS. Thoha:50)
pembentukan pribadi kamil dalam kehidupan sehari – hari bukanlah perkara mudah, insan kamil yaitu manusia yang sempurna. Sedangkan manusia sendiri, seperti yang telah kita ketahui tak ada yang terlahir dengan sempurna. Manusia adalah tempat segala kesalahan dan kekhilafan berasal. Namun kesempurnaan yang dimaksudkan di sini bukanlah kesempurnaan dalam arti tak pernah melakukan kesalahan sama sekali. Tak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan, itu kodrat. Karena itulah telah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu cara untuk mencapai dalam pembentukan  pribadi kamil adalah dengan bertaubat dengan syarat – syaratnya dan bertaubat hanya dilakukan oleh orang yang merasa melakukan kesalahan. Meskipun begitu, seseorang yang ingin mencapai tingkatan pribadi kamil harus tetap menjaga segala tingkah lakunya, agar jangan sampai keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya. Disamping itu, seorang pribadi kamil juga harus menjaga diri dari kesalahan – kesalahan yang mungkin dianggap kecil dalam kehidupan sehari – hari, seperti tergesa – gesa dan tidak cermat. Melahirkan pribadi yang kamil bukanlah semudah memberi pendidikan secara formal dari kecil sehingga dewasa.
Tanggung jawab dari dalam diri manusia itu sendiri. Kesadaran ini bukan saja merangkumi aspek kecintaan terhadap negara, bangsa dan agama malah menyeluruh meliputi ke-insafan dan kesedaran tentang tanggung jawab setiap manusia kepada sesama manusia dan kepada Penciptanya. Oleh hal yang demikian itu, pembelajaran dan pendidikan sepanjang hayat harus terwujud dalam setiap diri manusia.
Tentu kita menyadari di zaman sekarang ini memang sangat sulit bagi kita untuk dapat melihat atau menemukan seseorang yang menerapkan pribadi kamil di dalam kehidupannya, seperti yang kita tahu pribadi kamil merupakan perwujudan dari sifat – sifat dan perbuatan nabi Muhammad SAW yang sangat sempurna yang tidak semua orang dapat melakukannya apalagi ditengah maraknya orang yang hanya kemudian mengikutinya dari segi fisik dan ketubuhan beliau saja. Artinya beliau hanya dilihat secara partial saja, sehingga begitu banyaknya kita lihat manusia dengan "atribut fisik" mirip Rasulullah tapi akhlak dan kepribadianya sangat jauh dari apa yang menjadi ajaran nabi.
Namun gambaran manusia mukmin layaknya KH.Abdullah Faqih Langitan  dengan segenap ciri yang terdapat dalam Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia paripurna (insan kamil) dalam kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai oleh manusia. Allah menghendaki kita untuk dapat berusaha mewujudkannya dalam diri kita, Rasulullah saw telah membina generasi pertama kaum mukminin atas dasar ciri-ciri tersebut. Beliau berhasil mengubah kepribadian kaum jahilin secara total serta membentuk mereka sebagai mukmin sejati yang mampu mengubah wajah sejarah dengan kekuatan pribadi dan kemuliaan akhlak mereka [[6]]. Singkatnya, kepribadian orang beriman dapat menjadi teladan bagi orang lain.

















DAFTAR PUSTAKA

Nata Abuddin Dr. H. M.A, Akhlak Tasawuf, 2002. Jakarta : PT. Raja Grapindo Persada
Muthari Murtalha,  Manusia Sempurna, 2003, Jakarta,  Lentera
Najali, Utsman, Muhammad Dr., Jiwa dalam Pandangan Para Filsafat Muslim, terj. Gari Saloom, S.Psi, Bandung, 2002
Syukur, M. Amin, dan Usman, Fathimah. Insan Kamil. 2005. Semarang : CV. Bima Sejati.
Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi (Cet. VI; Jakarta: Bulan Bintang, 1991).
Supiana dan Karman, M. Materi PendidikanAgamaIslam.2009.Bandung : PT. Remaja Rosda Karya
Fauzi, Ahmad, Drs, H, Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia, 1999







[1] Dr.H.Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2002), hal. 257
[3] Diceritakan langsung oleh murid beliau yang bernama KH.Afifuddin Dimyathi, ketika penulis ikut mengaji kitab adabuddunya waddin
[4] Muthari Murtalha,  Manusia Sempurna, ( Lentera, Jakarta, 2003 ), Hal. 23.
[5] Supiana dan M. Karman, Materi Pendidikan Agama Islam, (PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2009), Hal.70

[6] Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an, hlm. 384.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar